Assalamu’alaikum, Parent!
Semoga dalam keadaan sehat ya ๐
Pada rabu yang cerah ini, sesi #ParentHarusTahu
akan mengulik topik tentang bagaimana permainan sensorial pada sekolah
montessori membangun kemampuan berbahasa pada anak-anak. Langsung di simak, Parent!
Salah satu manfaat permainan sensorial pada anak-anak adalah mampu mengasah kemampuan bahasa. Ketika anak-anak aktif berpartisipasi dalam permainan sensori, maka secara alami akan ‘memancing’ kemampuan berbahasa anak untuk memberi respon selama mereka bermain. Idealnya, peristiwa ini membutuhkan dukungan dari orang-orang dewasa –jika permainan sensori dilakukan di sekolah, maka perlu ada partisipasi dari tenaga pendidik dan jika dilakukan di rumah, maka tentu itu adalah kedua orang tua ataupun kerabat lainnya.
Bagaimana jenis partisipasi orang dewasa
yang dimaksud?
Pada sekolah montessori, pada
umumnya terdapat sebuah kurikulum yang memuat target capaian selama mengikuti
kelas, termasuk dalam hal ini adalah keahlian dalam bidang bahasa. Tenaga pendidik
ataupun orang tua bisa memutuskan jenis keahlian mana yang ingin dicapai
sebelum memulai kelas. Karena permainan sensorial melibatkan seluruh sistem
indera yang dimiliki anak-anak maka sebenarnya tidak terdapat jenis ‘permainan
khusus’ berkaitan dengan kemampuan bahasa. Selama anak-anak aktif dalam jenis
permainan sensorial yang dimainkan dan didukung oleh pendamping maka semua
jenis permainan sensorial dapat bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan
berbahasa anak-anak.
Misalnya pada jenis permainan
sensorial yang melibatkan aktivitas menyentuh, memegang, menggenggam dan
penyelesaian masalah. Jenis permainan sensorial yang dimaksud bisa berupa
bermain dengan beberapa benda seperti, pasir, lumpur atau squishy atau slime.
Selama proses bermain ini, orang dewasa selaku pendamping diharapkan agar
turut berpartisipasi dengan cara membangun komunikasi dua arah.
Sebut saja jika target keahlian
yang ingin dicapai adalah mengenalkan anak-anak kepada beberapa kosakata baru
dan membangun kalimat sederhana dengan menggunakan kosakata tersebut. Selama anak-anak
menikmati proses observasi mereka terhadap benda-benda yang telah disebutkan di
atas, biasanya anak-anak akan terpancing untuk memberitahu orang dewasa disekitarnya
tentang benda apa yang sedang mereka mainkan, misalnya seperti nama benda
tersebut.
Dari sini pendamping dianjurkan
untuk memberi umpan balik. Ketika anak-anak mengatakan nama benda tertentu, misalnya
slime, maka pendamping dapat memberi umpan balik dengan memberitahukan
ciri-ciri dari benda tersebut, seperti “benar ini dinamakan, slime yang
memiliki sifat lentur dan mudah dibentuk”. Selanjutnya, jika fokus capaian
keahlian yang ditargetkan adalah berupa respon bahasa, pendamping bisa
mengajukan pertanyaan dalam konteks ‘mengapa’. Misalnya “Bagaimana
rasanya memegang (nama benda)?” atau “warna apa yang dimiliki
oleh (nama benda)?”. Pendamping juga bisa menggunakan kosakata yang
mengacu pada ‘target atau arah’ seperti “pasir diletakkan di bagian atas,
pasir disimpan di dalam keranjang.”. Selanjutnya jika target keahlian
yang ingin dicapai adalah bahasa yang terkait dengan penyelesaian masalah, pertanyaan
yang dapat diberikan kepada anak-anak dapat berupa, “apa yang dibutuhkan
untuk membangun sebuah istana pasir?”
Hal yang patut diperhatikan adalah
bagaimana menentukan target keahlian yang ingin dicapai. Tentunya target tersebut
tetap harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan dan umur anak-anak. Hal ini
bertujuan agar anak-anak tidak merasa terbebani selama mereka dalam proses
bermain.
Itulah tadi Parent pembahasan
kita hari ini ๐.
Jangan bosan-bosan mampir ya ke blog AdamHawa, karena disini, Parent bisa
mendapatkan berbagai tips terkait dunia anak dan parenting.
Sampai jumpa di sesi selanjutnya!
Wassalam!


0 comments:
Posting Komentar