![]() |
| Photo by Markus Spiske on Unsplash |
Assalamu’alaikum! Selamat hari senin, Parent!
Pada sesi #ParentHarusTahu hari
ini, AdamHawa akan membahas bagian selanjutnya dari pembahasan kemarin mengenai kebiasaan makan anak terhadap gula. Oke langsung saja ya Parent!
Pada pembahasan sebelumnya sudah
dijelaskan jika diduga salah satu alasan mengapa anak begitu tertarik dengan
panganan manis karena mereka sedang dalam masa pertumbuhan. Namun ternyata perilaku
ketertarikan ini bisa ditelaah lebih jauh lagi melalui kaitannya dengan pelepasan satu hormon –yang faktanya tidak
hanya terjadi pada anak-anak namun juga pada orang dewasa.
Jika konsumsi gula harian tidak
dibatasi, hal ini dapat memicu ‘ketergantungan’. Efek ketergantungan yang dimaksud disini mungkin tidak sama dan separah dengan zat
adiktif berbahaya seperti alkohol namun memiliki efek yang hampir serupa.
Konsumsi gula yang berlebihan dapat memengaruhi kinerja neurotransmitter tertentu. Sederhananya, neurotransmitter adalah senyawa kimia dalam tubuh yang berfungsi untuk membawa dan mengirimkan pesan antar neuron (sel saraf) atau dari neuron ke berbagai jaringan. Dalam kasus mengonsumsi gula, neurotransmitter yang terpengaruh adalah dopamine (dopamin) yang berada pada otak manusia. Dopamin ini berkerja pada satu sistem pada otak yang dinamakan reward system. Reward system adalah sistem yang akan 'aktif' setiap kali kita memberi 'penghargaan' terhadap diri sendiri setelah kita menyelesaikan sesuatu yang dianggap sulit, termasuk ketika anak-anak mengonsumsi gula. Ketika sistem ini aktif, dopamin akan keluar dan akan memberikan sensasi berupa rasa nyaman, senang, bangga, dan bahagia.
![]() |
| https://www.simplypsychology.org/Dopamine-Pathway.jpg?ezimgfmt=rs:553x458/rscb36/ng:webp/ngcb36 |
Dopamin yang keluar memlaui jalur yang dinamakan mesolimbik selanjutnya akan menuju ke bagian otak yang disebut nucleus accumbens, yang merupakan 'sistem penghargaan' yang dimaksud sebelumnya. Sekali area ini teraktivasi, dia akan memberi arahan kepada tubuh kita untuk mengulang kembali hal yang mampu membangkitkan kembali sensasi 'pemberian penghargaan' tersebut.
Jadi, sebenarnya, dopamin tidak hanya terangsang oleh gula tapi juga akan keluar ketika mendeteksi sesuatu, baik itu kebiasaan atau kondisi yang memicu perasaan senang karena menerima suatu 'penghargaan'.
Hal ini seharusnya sudah cukup menjadi
pertimbangan yang kuat bagi orangtua untuk mulai memperhatikan jumlah gula yang
dikonsumsi oleh anak-anak dalam aktivitas makan setiap harinya. Bukan hanya untuk
menghindari efek ketergantungan tadi namun untuk menghindari dampak buruk yang
signifikan terhadap kesehatan anak jika konsumsi gula berlebih ini berlangsung
dalam jangka waktu yang lama.
Secara umum beberapa jenis makanan
yang menjadi sumber gula utama pada anak-anak berasal dari makanan pokok yaitu
nasi serta sayur, buah-buahan dan susu. Namun yang perlu menjadi perhatian ekstra disini
adalah jumlah total gula tambahan yang dikonsumsi anak-anak. Tambahan konsumsi
gula yang dimaksud bisa bersumber dari beberapa jenis panganan namun umumnya
dan kebanyakan berasal dari makanan ringan seperti cake, permen, cokelat, minuman
ringan, es krim dan minuman kemasan. Jumlah gula tambahan pada jenis makanan
ini tentu berbeda-beda. Biasanya informasi ini bisa ditemukan pada bagian
kemasan dan Parent sangat dianjurkan untuk jeli membaca informasi ini
sebelum memutuskan untuk membeli.
![]() |
| Photo by Markus Spiske on Unsplash |
Kementerian Kesehatan Indonesia berdasarkan
Permenkes Nomor 30 Tahun 2013, menjelaskan tentang anjuran konsumsi gula per
orang per hari adalah 10% dari total energi (200kkal). Konsumsi ini setara
dengan 4 sendok makan per orang per hari atau 50 gram per orang per hari. Sedangkan
untuk anak-anak, pada rentang usia 2-18 tahun, hanya diperbolehkan mendapat
asupan kurang dari 25 gram atau 6 sendok teh tambahan gula per harinya.
Konsumsi gula seharusnya tidak lebih dari 10% total kalori setiap hari.
Namun membatasi konsumsi gula pada
anak-anak juga bisa menjadi tantangan tersendiri khususnya bagi Parent yang
berkarir di luar rumah. Karena padatnya aktivitas, tidak sedikit orang tua yang
sangat bergantung dengan panganan instan untuk memenuhi kebutuhan makanan untuk
anak. Hal ini dapat diperburuk dengan kondisi pasar yang memang menyajikan makanan
dengan tambahan gula ehingga kondisi panganan dengan tambahan gula sudah dianggapasesuatu
yang normal. Pada akhirnya, rrang tua yang tidak terlalu menyadari kondisi ini dan
anak pun akan menganggap jika konsumsi panganan manis adalah sesuatu yang biasa
bahkan lambat laun akan terbiasa dan merasa asing ketika panganan yang mereka
konsumsi memiliki rasa yang berbeda.
Hmm, bahaya juga ya Parent jika
sampai anak memiliki ketergantungan terhadap panganan manis, belum lagi dengan
efek buruk lainnya. Semoga dengan informasi ini, Parent bisa lebih mawas
diri untuk menjaga pola makan anak terutama dengan makanan manis ya. Pembahasan
terkait kebiasaan makan anak terhadap gula masih akan berlanjut di beberapa
bagian ya Parent mengingat ini adalah informasi yang sangat penting untuk Parent
ketahui, so, stay tune ya๐
Sampai jumpa di bagian selanjutnya!
Wassalam!



0 comments:
Posting Komentar