Assalamu’alaikum, Parent! ๐
Di sesi #ParenTips kali ini,
AdamHawa akan membagikan tips tentang bagaimana membantu anak agar memiliki
perikaku dan sikap berbudi luhur. Langsung di simak ya Parent!
Setiap orangtua menginginkan
anaknya untuk memiliki perilaku yang baik, sopan dan santun. Setiap orangtua
pasti ingin memiliki anak dengan sikap yang baik –yang mengatakan ‘tolong’ dan
‘terima kasih’—ketika diberitahu demikian, tidak membuat masalah di sekolah
ataupun mengganggu teman-temannya. Namun faktanya, banyak orangtua yang
beranggapan jika membesarkan anak untuk memiliki perilaku yang baik dan santun
adalah sesuatu yang sulit.
Penyebabnya sebenarnya sangat
sederhana lho Parent, itu karena kita melihat segala sesuatunya dari
sudut pandang dan prioritas kita sebagai orang tua –yang pastinya untuk saat
ini belum dipahami oleh anak-anak. Pada dasarnya ketika orang dewasa menegur
anak-anak, orangtua seakan-akan ingin ‘menyadarkan’ anak-anak bahwa perilaku
mereka tidak sesuai dengan standar dan kebutuhan kita sebagai orang dewasa.
Namun bukan berarti itu karena mereka tidak ingin atau tidak menghargai apa
yang Parent lakukan tetapi sesederhana karena mereka hanya seorang
anak-anak yang belum mampu berbagi prinsip, nilai, tanggung jawab dan
kekhawatiran yang sama dengan Parent sebagai orangtua.
Secara psikologis, anak-anak
melewati berbagai tahap dalam perkembangannya. Ini terjadi terutama selama 12
tahun pertama kehidupan mereka (setelah itu perkembangan didasarkan pada
pengalaman hidup dan kemampuan pribadi). Mengetahui apa arti tahapan-tahapan
ini sangat membantu karena mengajarkan Parent tidak hanya apa yang harus
diajarkan kepada anak-anak pada usia tertentu, tetapi juga bagaimana mengajari
mereka apa yang kita ingin mereka ketahui demi kepentingan kebaikan mereka.
Namun semua anak berbeda dan
beberapa anak mungkin lebih dewasa dalam hal pemikiran dan perilaku. Beberapa
anak adalah tipe yang ‘taat kepada aturan’ –ketika dikatakan tidak, mereka akan
menurut—namun ada juga dari mereka yang tidak. Hal utama yang menjadikan
–bagaimana membimbing anak untuk berperilaku baik—sulit adalah karena prosesnya
merupakan proses yang berkelanjutan dan membutuhkan usaha ekstra. Yang paling penting
untuk Parent perhatikan adalah fokus terhadap tujuan utama, yaitu
membentuk anak dengan perilaku yang baik daripada fokus terhadap tujuan jangka
pendek, seperti berusaha menenangkan seorang anak yang sedang mengalami tantrum.
Kita coba ambil contoh ya Parent,
untuk anak usia 8 tahun. Anak dengan usia antara 7 – 12 tahun akan mengalami
masa perkembangan ketika mereka mulai menerapkan logika dan bukti untuk memvalidasi
sesuatu. Ini berarti bahwa jika Parent menjelaskan sesuatu kepada
mereka dengan cara yang logis dan jelas dengan beberapa contoh konkret mereka akan
dengan mudah memahaminya.
Parent akan menemukan bahwa setelah usia
12 tahun, anak akan dapat memikirkan kehidupan dengan lebih mendalam, dengan pemahaman
yang lebih spiritual dan mempertimbangkan pendapat yang berbeda dan
memungkinkan mereka untuk mengubah pemikirannya. Walaupun demikian, anak mungkin
masih belum mampu memahami betul apa yang Parent maksudkan.
Itulah mengapa Parent harus
memahami setiap tahapan perkembangan anak-anak, karena seringkali orangtua meminta
anak untuk melakukan atau mengerti sesuatu dengan menggunakan bahasa yang ‘terlalu
dewasa’ untuk mereka pahami. Masayaallah, disinilah kita perlu menggunakan
ajaran sunnah Rasulullah SAW yang memberitahu kita untuk menjelaskan sesuatu
kepada anak-anak sesuai dengan usia mereka dan dengan cara yang dapat mereka
pahami.
Selain itu, Dr. Feyrad Hussain, yang
merupakan seorang doktor di bidang psikologi klinis juga menjelaskan
“Sebagai psikolog, kami menyarankan
bahwa hal termudah untuk membantu anak-anak mengubah perilaku mereka
adalah apa yang kami sebut 'bagan bintang'. Prinsip dasarnya adalah menunjukkan
kepada anak bahwa Anda memperhatikan mereka berbuat baik dan bahwa
setiap orang melihat perilaku baik mereka dan bahwa mereka akan mendapat
‘penghargaan’ untuk itu. Hal ini akan menyebabkan anak ‘ketagihan’
dengan sensasi ‘penghargaan’ yang mereka terima sehingga mereka akan mengulang
perilaku baik mereka. Ini sederhana untuk diterapkan.”
Dr Feyrad menyarankan untuk memulainya
dengan berbicara kepada anak tentang kita yang akan lebih memperhatikan
setiap tingkah laku baik mereka –apakah itu berperilaku yang sopan dan santun,
membantu membereskan rumah atau menurut terhadap apa yang kita katakan. Fokus
pada satu jenis kebiassan positif untuk diubah terlebih dahulu. Setelah anak
menunjukkan perubahan, Parent boleh pindah ke satu perilaku lainnya. Parent
dapat mengukur pencapaian anak dengan bagan bintang yang disebutkan
tadi.
Setiap kali anak-anak melakukan perbuatan
baik yang telah disepakati maka berikan tanda bintang. Buatlah bagan yang dibagi dalam
tujuh hari. Letakkan di dinding atau tempat yang mudah mereka lihat
sehingga anak-anak bisa menyaksikan sendiri bagaimana mereka berproses
membentuk satu perilaku yang positif. Buat kesepakatan bagaimana ‘bagan
bintang’ ini bekerja. MIsalnya, Parent bisa membuat kesepakatan
seperti jika anak melakukan tiga perbuatan baik dalam sehari selama tiga hari
berturut-turut –selain memberikan bintang—Parent juga bisa memberi
penghargaan lain, misalnya menambah durasi waktu main mereka, memasak masakan
favorit anak dan lain-lain.
Selain itu, Dr Feyrad juga
menambahkan untuk memberi penghargaan dalam bentuk ‘bahasa tubuh’ orangtua
kepada anak, misalnya, memeluk, memberinya ucapan terimakasih, mengusap
kepala dengan lembut, mengajaknya bermain keluar –intinya menghabiskan
waktu bersama anak. Yang perlu dicatat agar anak merasa benar-benar diberi
penghargaan karena telah berkelakuan baik, pastikan ketika memberi ‘penghargaan’
apapun anak hadir saat itu juga dan benar-benar merasakan momen tersebut. Selain
itu, sebaiknya peristiwa ini juga disaksikan langusng oleh kedua orangtua –ibu
dan ayah—lebih bagus lagi jika diketahui oleh saudara-saudaranya.
Dalam memberikan ‘penghargaan’ hal
lain yang perlu diperhatikan adalah tidak memberi penghargaan dalam bentuk
materi. Umumnya anak belum memiliki ketertarikan khusus terhadap hal-hal
yang berbau materi, oleh karenanya hal ini menjadi sesuatu yang perlu
dimanfaatkan oleh orangtua untuk membentuk pola pikir anak tentang bagaimana
seharusnya mereka memaknai dan bersikap terhadap seusatu yang bersifat material.
Jadi, Parent usahakan untuk
memberi penghargaan dengan beberapa cara yang telah disebutkan diatas ya! Membentuk
seorang anak dengan akhlak yang berbudi pekerti luhur memang tidak bisa
dilakukan secara instan, tapi juga bukan berarti sesuatu yang mustahil untuk
bisa dilakukan. Kalau kata motivator jaman now, kesabaran dan konsistensi adalah
koentji ๐.
Parent sebagai manusia biasa tugasnya untuk memberi ikhtiar terbaik yang
bisa Parent berikan. Selanjutnya adalah senantiasa bertawakkal dan memohon
kepada Allah SWT, zat yang menggenggam hati manusia –agar hati anak-anak dilembutkan
dan mudah untuk memahami bahwa apa yang Parent lakukan hanya untuk
kebaikan mereka.
Anyway, pembahasan artikel ini masih ada
bagian duanya ya Parent biar tidak mumet-mumet amatlah untuk
mencerna informasi yang terlalu banyak :D
So, stay tune di blog AdamHawa terus ya Parent.
Sampai jumpa di bagian dua ๐
Wassalam!
0 comments:
Posting Komentar