Assalamu’alaikum, Parent! ๐
Parent pasti sudah akrab dengan satu pelajaran
ini. Yup it is math! –matematika. Di antara begitu beragamnya ilmu pengetahuan, matematika terkenal di kalangan anak-anak –bahkan orang
dewasa sekalipun, sebagai subjek yang sulit untuk dipelajari. Dan, hari ini,
kita akan bahas penyebab-penyebab mengapa anak tidak menyukai pelajaran
matematika lengkap dengan tipsnya.
Matematika sebagai salah satu
bidang ilmu sangat penting untuk perkembangan dan kemajuan peradaban umat
manusia. Secara umu, matematika memainkan peranan penting agar orang-orang
mampu memahami teori maupun prinsip dari bidang ilmu yang lebih spesifik dan
bersifat praktikal seperti ilmu alam, teknik, studi sosial hingga musik dan
seni. Manfaat bagi manusia itu sendiri ketika mereka mempelajari matematika
adalah dapat meningkatkan kemampuan berpikir analitis dan penalaran yang
baik. Berpikir analitis mengacu pada kemampuan untuk berpikir kritis
tentang berbagai fenomena dunia di sekitar kita. Sedangkan penalaran adalah
kemampuan kita untuk berpikir secara logis tentang suatu situasi. Di sekolah montessori
secara umum maupun di Sekolah Montessori Islam Adam Hawa, matematika adalah
salah satu dari lima area penting yang diajarkan.
Lantas dengan segudang manfaat yang
dibawanya, tidak membuat matematika menjadi mata pelajaran favorit anak-anak. Mungkin
ada, namun bisa dipastikan jumlahnya tidak akan sebanyak anak-anak yang
menyukai pelajaran menggambar atau mewarnai.
Selain alasan karena ‘matematika
itu sulit’ apa saja alasan yang menyebabkan begitu banyak anak-anak tidak
menyukai matematika? Apa yang Parent dapat lakukan untuk membuat
anak-anak bisa merasakan betapa menyenangkan dan ‘memuaskannya’ ketika mereka
berhasil menyelesaikan soal matematika? Berikut ini AdamHawa akan coba paparkan
alasan yang bisa saja menjadi penyebab anak-anak enggan menyukai matematika. Disimak
ya Parent ๐
Alasan 1: cara terbatas untuk
mendapatkan nilai
Beberapa mata pelajaran seperti
bahasa Inggris atau seni, nilai dapat berasal dari beberapa aspek penilaian
seperti kreativitas, ejaan, tata bahasa, gaya, tanda baca, komposisi warna yang
digunakan dan banyak lagi. Namun pada matematika, anak-anak akan menjumpai
bahwa hanya ada sedikit peluang untuk mendapatkan nilai karena jawaban yang
dihasilkan adalah jawaban pasti yang artinya hanya dua; jawaban benar atau salah.
Hal yang bisa Parent lakukan
adalah membantu anak fokus untuk memahami materi. Point pentingnya
adalah bagaimana Parent membantu anak untuk belajar melihat jawaban –baik
itu jawaban yang benar atau salah sebagai sesuatu yang positif. Walaupun pelajaran
seperti bahasa dan seni memiliki banyak aspek sebagai sumber nilai, di satu
sisi hal ini malah bisa menjadi celah bagi anak-anak untuk kehilangan point dalam
tugas mereka. Dalam matematika, jika Parent berupaya agar anak dapat
memahami materi matematika yang akan diujikan –maka tidak seperti dua pelajaran
lain yang telah disebutkan, anak-anak bisa dengan mudah mendapatkan nilai yang sempurna.
Alasan 2: pelajaran yang
membosankan
Beberapa anak-anak tidak menyukai
matematika karena menurut mereka matematika itu membosankan. Mereka tidak
tertarik dengan angka dan rumus sebagaimana mereka tertarik dengan sejarah,
sains, bahasa, atau mata pelajaran lain yang lebih mudah dikaitkan dengan
kehidupan nyata dan pribadi mereka. Mereka melihat matematika sebagai sesuatu
yang abstrak dan tidak relevan yang sulit dipahami.
Hal yang Parent bisa lakukan
adalah sekreatif mungkin menghubungkan matematika ke skenario kehidupan
nyata. Tunjukkan kepada anak bagaimana matematika berhubungan dengan hal-hal
yang terjadi di dunia nyata untuk memicu minatnya pada mata pelajaran
tersebut. Jika Parent memiliki kerabat atau teman yang bidang
pekerjaannya erat dengan hitung-hitungan, ada baiknya Parent berinisiatif
untuk mengajak anak untuk bertemu dan berbicara tentang pekerjaan mereka. Selain
itu, Parent juga dapat menunjukkan bagaimana matematika berperan dalam
kehidupan sehari-hari melalui contoh-contoh sederhana seperti saat mengajak
mereka belanja bulanan di pasar, tunjukkan bagaimana matematika berperan dalam
mengetahui jumlah belanjaan atau hal sederhana lainnya seperti memberi tahu
tentang waktu.
Alasan 3: membutuhkan banyak
hafalan
Banyak anak-anak yang berjuang untuk
memahami matematika dengan menghafal semua teori, rumus dan persamaan yang ada.
Namun pada kenyataannya, menghafal hanyalah salah satu bagian dari belajar
matematika.
Tips untuk membantu anak keluar
dari kesulitan ini adalah ajarkan mereka untuk berfokus pada pemecahan masalah.
Alih-alih hanya menghafal, anak-anak seharusnya berkonsentrasi untuk
memahami bagaimana dan mengapa suatu rumus dapat bekerja pada satu soal dan
rumus lainnya tidak. Anak-anak yang mengandalkan hafalan saat belajar
matematika tidak mampu menerapkan pengetahuannya dan cenderung berkecil hati
atau tidak percaya diri saat diminta untuk berpikir out of the box atau berpikir
kreatif.
Di waktu luang anak-anak, Parent
bisa nih menawarkan permainan asah otak berbasis angka yang berfokus untuk
membangun keterampilan memecahkan masalah daripada menghafal. Ini bisa
menjadi cara yang menyenangkan untuk membuat anak-anak lebih bersemangat untuk
memahami matematika.
Alasan 4: dibutuhkan banyak ‘kesalahan’
Untuk belajar dan memahami, matematika
cenderung mensyaratkan banyak ‘kesalahan’ bagi yang mempelajarinya untuk bisa ‘berjumpa’
dengan jawaban yang benar. Siswa harus mengulangi jenis pertanyaan yang sama
berulang kali sampai mereka mendapatkan jawaban yang benar—dan hal ini terkadang
membuat anak lelah, frustrasi. Bukan hanya orang dewasa ya Parent tapi anak
pun, ketika mereka mendapat jawaban yang salah secara berulang dapat berujung
pada menurunnya kepercayaan diri, yang membuat mereka lebih memilih untuk
menghindari subjek tersebut.
Cara membantu anak adalah dengan menunjukkan bahwa membuat kesalahan adalah bagian dari pembelajaran. Sejak dini, Parent perlu mengajari anak bagaimana pentingnya agar mereka tidak menghindari tugas yang menantang dan membutuhkan kerja keras. Bantu anak untuk memahami bahwa semakin sulit mendapatkan jawaban yang benar, semakin memuaskan saat dia akhirnya menyelesaikannya. Jika anak mulai putus asa saat belajar matematika, ingatkan dia bahwa membuat kesalahan hanyalah bagian dari proses belajar. Pelajaran berharga ini berlaku baik di dalam kelas maupun dalam kehidupan secara keseluruhan.
Matematika selalu menjadi mata pelajaran
yang menakutkan di kalangan anak-anak. Namun diingat kembali ya Parent, bahwa
matematika punya begitu banyak manfaat yang sangat penting –walaupun pada
akhirnya anak tidak memilih jalan karir mereka di bidang matematika. Bukan hanya
pada pelajaran matematika namun nilai ‘kesalahan adalah bagian dari proses
belajar’ berlaku untuk pelajaran apapun.
Sampai jumpa di artikel selanjutnya
๐
Wassalam!



0 comments:
Posting Komentar