Assalamu’alaikum Parent๐
Hari ini AdamHawa akan membahas lagi
bagian selanjutnya dari pembahasan kita mengenai ‘hubungan’ spesial antara anak
dan gula. Dibagian ketiga ini, AdamHawa akan fokus untuk membahas dampak apa
saja yang akan terjadi jika anak mengonsumsi gula di luar ambang batas yang
telah dianjurkan. Disimak ya, Parent!
Pada pembahasan terakhir, kita
sudah membahas mengapa anak-anak –jika dibandingkan dengan kelompuk umur
lainnya, memiliki ketertarikan yang besar terhadap gula. Dari sana kita pahami
bahwa alasannya bisa dilihat dari reaksi kimia yang terjadi di dalam otak
manusia secara umum dan juga berdasarkan kebutuhan tubuh anak-anak akan energi.
![]() |
| Photo by Rod Long on Unsplash |
Sebagai orang tua, memberikan
panganan manis kepada anak adalah alternatif yang paling sering dilakukan
sebagai bentuk apresiasi atau penghargaan kepada anak apabila mereka berhasil
melakukan sesuatu. Meskipun, tentu saja anak akan dengan senang hati
menikmatinya, namun hal yang Parent perlu perhatikan disini adalah bagaimana
membatasi konsumsi gula agar tidak melewati ambang batas sesuai anjuran
Kementrian Kesehatan Indonesia. Karena dibalik rasanya yang ‘menyenangkan’
konsumsi gula berlebih dapat berujung pada beberapa masalah kesehatan.
Membangun hubungan yang sehat
dengan gula termasuk didalamnya adalah dengan memisahkan ‘perasaan’ dan
pengaruh lingkungan dalam memutuskan jenis panganan yang ingin dikonsumsi. Berikut
ini beberapa hal yang Parent perlu perhatikan dalam membantu anak ‘meredam’
keinginan terhadap panganan manis, menikmati makanan dengan nutrisi seimbang namun
tetap bisa menikmati gula sebagai selingan.
Menghindari masalah
kesehatan di masa depan
Walaupun mengonsumsi gula dalam
jumlah yang banyak sepertinya tidak memberi masalah kesehatan dalam jangka
waktu pendek, namun membangun kebiasaan makan sehat sejak kecil sangatlah
penting. Asupan gula yang tinggi meningkatkan resiko obesitas, penyakit
jantung dan kanker, terutama seiring bertambahnya usia. Sedangkan beberapa
jenis penyakit seperti nyeri sendi, dan asam urat dapat timbul sebagai akibat
lebih lanjut dari obesitas.
Membentuk kebiasaan makan bergizi
sejak dini akan membimbing dan membuat anak terbiasa dengan gaya hidup
sehat di masa depan. Di usia mereka yang sekarang, Parent mungkin harus melakukan
usaha ekstra untuk membiasakan mereka mengonsumsi makanan bergizi, namun ketika
mereka dewasa, mereka akan menganggap mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang
sebagai suatu kebiasaan yang secara ‘otomatis’ akan mereka lakukan. Saat ini, hal yang Parent perlu
lakukan adalah, alih-alih fokus terhadap dampak negatif dari gula, berfokuslah
ke manfaat makanan bergizi, untuk membangun pola dan sikap positif
tentang pola makan yang baik dan seimbang.
Memastikan nutrisi
yang cukup
Alih-alih mengisi sistem pencernaan
anak dengan energi ‘kosong’ dari gula, berikan makanan dengan nutrisi seimbang untuk
membantu mereka tumbuh dan berkembang. Orang dewasa disarankan untuk membatasi konsumsi
gula dibawah 10% dalam jumlah kalori yang dibutuhkan setiap hari (lebih kurang
sekitar 12 sendok teh atau 48 gram). Sedangkan untuk kasus anak-anak adalah
sebanyak 25 gram atau 6 sendok teh per hari.
Panganan manis tidak hanya
menggantikan makanan dengan zat gizi penting seperti, protein, buah-buahan,
sayuran, susu, dan biji-bijian tetapi juga ‘menghabiskan’ vitamin dari tubuh
selama proses pencernaan, seperti vitamin B yang berperan dalam proses metabolisme
(penguraian) glukosa (gula).
Anak-anak yang sedang tumbuh
membutuhkan protein untuk perkembangan otot dan lemak baik untuk mendukung otak
dan sistem saraf mereka. Seorang anak yang minum soda atau jus kemasan daripada
susu biasa kehilangan kalsium untuk pertumbuhan gigi dan tulang yang kuat. Melatih
indera pengecap anak-anak terhadap rasa makanan alami tanpa gula
tambahan membuat mereka memiliki kebiasaan makan yang lebih sehat dan
sebagai langkah dini untuk mencegah munculnya penyakit kronis di masa dewasa.
Melindungi kesehatan
gigi
Selain sebagai langkah untuk
mencegah penyakit diabetes dan penyakit jantung –sebagai akibat jangka panjang
mengonsumsi gula berlebih, menghindari gula tambahan dapat membuat anak-anak
tidak perlu menjalani perawatan gigi yang menyakitkan dan mahal. Karena faktanya,
kerusakan gigi diperparah dengan konsumsi makanan dan minuman manis secara ‘teratur’.
Jika tidak diobati dengan benar, masalah gigi dapat menyebabkan infeksi serius
(bahkan jika itu hanya gigi susu).
Bersamaan dengan menghindari
cemilan dan minuman manis, mengajari anak-anak untuk rutin menyikat gigi pada
usia muda, membantu menghilangkan sisa-sisa gula penyebab plak dan membantu menjaga
gigi agar tetap kuat dan sehat. Tips sederhana yang bisa Parent coba
untuk mengajarkan anak-anak membangun kebiasaan menyikat gigi dapat dimulai dengan
menggosok gigi tanpa menggunakan pasta gigi. Perlahan beri penjelasan yang mudah
dipahami oleh anak-anak tentang pentingnya menyikat gigi.
Ketahui kandungan
gula ‘tersembunyi’ pada makanan
Makanan dengan target pasar
anak-anak seringkali mengandung gula yang tinggi. Beberapa makanan yang sudah
sangat jelas mengandung kadar gula tinggi adalah, soda, permen, sereal manis
dan jus kemasan. Selain itu, Parent juga perlu tahu ya, kalau gula juga
terdapat pada makanan yang diklaim sebagai ‘makanan sehat’ dan ‘bergizi’
seperti, snak granola, yoghurt berperisa, sereal ‘sehat’, saus pasta, saus
tomat, hingga saus apel.
Keterampilan yang sangat perlu Parent
pelajari adalah jeli membaca label makanan agar Parent dapat mengenali
kandungan gula tambahan sebelum membeli. Kebiasaan sederhana seperti mengganti
menu seperti saus apel alami tanpa pemanis dibandingkan yang berperisa dan buah
‘utuh’ dibandingkan jus buah kemasan atau sirup dapat membantu Parent mengurangi
asupan gula tambahan yang dikonsumsi anak-anak.
Periksa daftar komposisi makanan
untuk beberapa istilah seperti jus tebu, sirup jagung, dextrose (dekstrosa),
brown rice syrup, raw sugar, dan crystal solids yang merupakan nama
lain dari gula. Membangun kebiasaan minum air mineral dan susu tanpa perisa
merupkan langkah yang sangat baik untuk mengurangi asupan gula.
Mendorong gaya hidup
sehat dan seimbang
Ketika anak-anak berada pada lingkungan
yang menerapkan kebiasaan makan sehat, sebagian besar dari mereka akan
mengikuti atau mengatur aktivitas makan berdasarkan ‘sinyal lapar’ internal
mereka. Untuk mengatasi hal ini, alih-alih memberi atau menawarkan panganan
manis sebagai hadiah (atau menahannya sebagai bentuk hukuman), Parent sebaiknya
mendorong anak-anak untuk memperhatikan bagaimana ‘perasaan tubuh’ anak-anak
dan mulai membangun ‘hubungan yang baik’ dengan makanan. Ajarkan mereka tentang
bagaimana membangun beberapa sikap positif terkait dengan makanan, seperti ‘makan
perlahan’, ‘berhenti sebelum kenyang’, dan tidak memberi penilaian tentang makanan,
bahwa ini makanan yang ‘baik’ atau ‘buruk’.
Beberapa perilaku lain yang bisa Parent
coba praktikkan di rumah adalah dengan duduk makan bersama keluarga dan
membiarkan anak-anak untuk membantu Ibu di dapur. Sebaiknya, Parent harus
mulai mencoba berhenti menjadikan makanan sebagai hadiah atau hukuman. Jika Parent
tetap ingin menjadikan makanan sebagai bentuk apresiasi, buatkan makanan
dengan kandungan gizi seimbang ya Parent. Hadiah non-makanan melainkan
berupa barang seperti stiker –yang biasanya disukai anak-anak atau jika disaat
yang bersamaan anak-anak sedang membangun menabung untuk membeli barang impian
mereka, Parent boleh memberikan reward ke dalam celengan mereka ๐. Tapi tentunya pemberian apresiasi
yang terbaik adalah dengan mengekspresikan secara langsung rasa sayang melalui tindakan,
seperti pelukan.
Langkah selanjutnya yang Parent bisa
coba adalah dengan tidak menyetok cemilan manis di rumah. Anak-anak akan
cenderung memilih-milih makanan, namun jika semua pilihannya hanyalah makanan
sehat, maka Parent tidak perlu khawatir. Jelaskan kepada anak-anak bahwa
beberapa makanan adalah makanan sehari-hari, sementara yang lain adalah makanan
yang hanya sesekali boleh di konsumsi. Hal ini selain menghindari pemberian ‘penghakiman’
moral kepada makanan, namun Parent tetap bisa menyampaikan bahwa
panganan manis hanya boleh dikonsumsi sesekali. Ketika anak-anak mengonsumsi
makanan manis di luar rumah, sebut saja ketika mereka menghadiri acara ulang
tahun atau menikmati snak sore di rumah kakek neneknya, Parent tidak
usah terlalu mempermasalahkan hal ini. Move on dan fokus membangun kebiasaan
makan yang baik di rumah.
Oke, segitu dulu ya Parent. Alhamdulillah
cukup panjang juga ya pembahasan kita. Hmm, apakah masih akan berlanjut ke
bagian empat? Jawabannya, stay tune terus saja ya di blog AdamHawa ๐
Sampai jumpa dan,
Wassalam!

0 comments:
Posting Komentar