Assalamu’alaikum, Parent!
Hari ini AdamHawa akan membahas tentang
sifat kemandirian pada anak. Apakah sifat kemandirian penting diajarkan sejak
dini? Bagaimana cara menumbuhkan kemandirian pada anak-anak? Langsung disimak
saja ya Parent!
Kemandirian adalah salah satu sifat
yang dibawa anak-anak sejak lahir. Hal ini dapat Parent buktikan
ketika melihat bayi yang mencoba menyuapi dirinya sendiri. bersikeras melepas
popoknya sendiri, atau saat menginjak usia balita mereka terkadang berinisiatif
untuk berpakaian sendiri atau menyalakan keran di wastafel.
Mengembangkan kemandirian adalah
kesempatan yang tidak boleh Parent lewatkan untuk membangun rasa
percaya diri dan self-esteem atau rasa menghargai diri sendiri
pada anak— dan memberikan respon terbaik ketika dihadapkan pada situasi yang
tidak menyenangkan dan juga melatih ketekunan!
Walaupun begitu, wajar kok Parent
kalau sebagai orang tua, Parent akan sulit untuk tidak khawatir atau
mengeluh ketika anak-anak yang sedang aktif-aktifnya berlomba-lomba untuk
menaiki tangga, memanjat, dan kemudian mencoba menuangkan segelas susu untuk
diri mereka sendiri. Membiarkan anak-anak melakukan tugas sering kali
berarti bahwa tugas tersebut akan memakan waktu dua kali lebih lama — dan
menjadi tiga kali lebih berantakan ๐. Selain
itu mungkin Parent juga akan merasa sedih dan sulit ketika melihat anak dengan
giat mencoba, gagal, lalu merasa frustrasi atau kecewa.
Berikut ini beberapa cara sederhana yang bisa Parent
coba untuk mengasah kemandirian pada anak.
Tetapkan rutinitas
yang dapat diprediksi
Ini mungkin tampak mengejutkan,
tetapi menetapkan rutinitas yang konsisten penting untuk memelihara
kemandirian. Sama seperti orang dewasa, ketika anak-anak dapat
mengantisipasi hari mereka, mereka lebih siap untuk mengambil tanggung
jawab. Jangan bingung dengan jadwal (walaupun keduanya mungkin tumpang
tindih), rutinitas adalah rangkaian aktivitas apa pun yang terjadi sepanjang
hari. Bahkan aktivitas sederhana seperti menyikat gigi merupakan sebuah
rutinitas, karena memiliki beberapa langkah yang selalu dalam urutan yang sama:
menyalakan air, membilas sikat gigi, memakai pasta gigi, menyikat, membilas,
mengeringkan tangan dan mulut. Demikian pula, ketika anak-anak kembali ke rumah
setelah bermain di luar –mereka akan melakukan beberapa aktivitas seperti belajar
meletakkan alas kaki dengan rapi, mengucap salam sebelum masuk rumah hingga
mencuci tangan.
Saat anak-anak mengalami satu rutinitas
berulang kali, mereka belajar untuk mengantisipasi apa yang akan terjadi
selanjutnya, dan mereka mulai memikul lebih banyak tanggung jawab dengan
lebih sedikit bantuan. Jika Parent membiarkan anak-anak melakukan
beberapa pekerjaan persiapan, seperti mengoleskan pasta gigi ke sikat giginya,
atau menemukan mainan yang dimainkannya kemarin, mereka akan melakukan dan
mengulangi langkah-angkah tersebut dengan frekuensi yang lebih sering tanpa
melibatkan orang lain. Selanjutnya, Parent diharapkan menyampaikan
kepada mereka bahwa Parent percaya pada kemampuan mereka untuk melakukan
langkah-langkah ini tanpa campur tangan Parent maupun orang dewasa
lainnya dan meyakinkan mereka bahwa Parent akan selalu ada ketika mereka
kesulitan atau membutuhkan bantuan.
Biarkan anak memilih
Cara lain untuk mendukung
kemandirian anak adalah dengan memberi mereka pilihan. Libatkan anak-anak
dalam memutuskan apa yang akan dikenakan, apa yang akan dimainkan atau siapa
yang akan dihubungi. Namun ini tidak harus berarti mereka memiliki kehendak
yang bebas ya Parent. Sediakan dua atau tiga pilihan, lalu puji
kemampuan hebat mereka atas piliha yang telah mereka! Memberikan pilihan
sangat berharga ketika anak-anak –khususnya anak prasekolah ketika Parent
bersikeras melakukan sesuatu dengan cara mereka. Misalnya, ketika mereka
mungkin berinisiatif untuk menyeberang jalan sendiri –yang jika dilihat dari
kondisi jalan raya yang ramai merupakan sesuatu yang berbahaya. Dengan
menawarkan pilihan – seperti memegang tangan atau digendong – anak-anak dapat
merasa diberdayakan dan dipercaya atas keamanan mereka meskipun secara tidak
langsung Parent menjaganya tetap aman.
Biarkan anak membantu
Anak-anak memiliki sifat yang suka
membantu! Selain membangun kemandirian, ini adalah celah yang Parent dapat
manfaatkan untuk menenangkan mereka ketika mereka sedang tantrum atau sebagai
bentuk pengalihan perilaku dengan memberi mereka a sense of control atau
pengendalian diri. Ketika Parent mengizinkan anak-anak untuk
membantu, Parent telah memupuk kepercayaan diri mereka dan memberi
mereka kesempatan untuk mempelajari sesuatu yang baru. Meskipun ini
mungkin melibatkan penambahan satu atau dua langkah ekstra, ini juga merupakan
cara yang bagus untuk melibatkan anak dalam rutinitas dan aktivitas
sehari-hari.
Misalnya, saat membuat telur
orak-arik, orang dewasa mungkin langsung menuangkan susu ke dalam mangkuk dan
langsung membuang cangkangnya ke tempat sampah. Sebagai alternatif,
pertimbangkan untuk menuangkan susu ke dalam cangkir atau kendi kecil dan
mintalah anak untuk menuangkannya ke dalam mangkuk. Demikian juga,
kumpulkan kulit telur dalam mangkuk kecil dan minta anak untuk membantu
membuangnya ke tempat sampah.
Sekali lagi, Parent
berkomunikasi dengan anak-anak bahwa Parent memercayai mereka untuk
melakukan tugas-tugas tersebut dan momen-momen tersebut memberi kesempatan
terbentuknya percakapan dua arah dengan anak untuk mencapai tujuan bersama. Anak-anak
akan lebih cenderung bersemangat dan senang karena memakan makanan yang mereka
bantu siapkan.
Biarkan anak membantu pekerjaan
rumah
Namun tentu saja, tugas rumah yang
dimaksud disini akan berbeda dengan apa yang dikerjakan anak-anak yang sudah
lebih dewasa, tetapi hal ini adalah batu loncatan penting untuk mempersiapkan aank-anak
terhadap tugas yang lebih besar ketika mereka dewasa. Banyak penelitian
yang mengemukakan manfaat pemberian pekerjaan rumah untuk anak-anak adalah
sebagai cara membangun rasa tanggung jawab dan kemandirian, mengajarkan
kerja sama tim, dan memelihara rasa empati.
Tugas-tugas sederhana seperti membereskan
mainan yang sudah dipakai atau memasukkan pakaian yang sudah mereka pakai ke
dalam keranjang pakaian kotor memungkinkan anak memiliki tanggung jawab yang
wajar dan membantu menjaga rangkaian rutinitas sepanjang hari. Bahkan,
tugas-tugas ini dapat dimasukkan ke dalam rutinitas harian Parent. Misalnya,
bagian dari rutinitas waktu makan, anak-anak dapat menolong untuk membawa
piring mereka sendiri ke wastafel.
Biarkan anak memecahkan
masalah
Pastikan untuk mengizinkan anak untuk
mencoba hal-hal yang sulit dan memecahkan masalah (kecil) sendiri. Sering
kali, orang tua memproyeksikan stres atau frustrasi kita kepada anak-anak
padahal sebenarnya mereka adalah pemecah masalah yang berbakat. Saat anak
pertama kali belajar merangkak atau berjalan, kita harus membiarkan mereka
jatuh. Demikian pula, ketika anak-anak belajar memakai sepatu, kita harus
membiarkan mereka memakai sepatu yang salah. Tunggu sampai anak meminta
bantuan atau berikan sedikit petunjuk untuk membawanya ke langkah berikutnya.
Memberi anak tugas-tugas yang
sedikit menantang, tetapi masih dalam ranah apa yang dapat mereka lakukan
dengan sedikit dukungan, membantu mereka belajar mengatasi frustrasi,
memecahkan masalah, dan mengatasi situasi yang menantang. Parent boleh
mengakui bahwa ada sesuatu yang sulit dan beri tahu mereka bahwa Parent
bangga dengan memberikan pujian karena mencoba hal-hal baru atau
sulit. Namun, pastikan untuk memuji usaha daripada hasil atau
keterampilan: "Bunda bangga dengan adek karena bisa bertahan dengan
itu bahkan ketika itu menjadi sulit," daripada mengatakan, "Kamu
sangat pandai mengikat sepatumu!"
Mendorong anak melakukan
aktivitas
Aktivitas yang dapat mencakup apa saja mulai dari mewarnai, membangun puzzles hingga kerajinan tangan, memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk memusatkan perhatian mereka pada aktivitas yang memerluka jangka waktu tertentu. Mengomentari dan memuji pekerjaan anak memberi mereka rasa pencapaian dan harga diri, dan memuji usaha anak berarti Parent sudah membantu perkembangan keberanian. Ketika Parent mendorong anak untuk terus mencoba merangkai manik-manik menjadi kalung, Parent secara tidak langsung menyampaikan kepada mereka bahwa Parent percaya pada kemampuan mereka untuk melakukan sesuatu, yang diterjemahkan menjadi kepercayaan diri dan, setelah dia berhasil, akan menjadi sebuah pencapaian dan kebanggaan.
Memilih permainan ‘bebas’
Bermain mandiri dan permainan yang tidak
terstruktur sangat penting untuk menumbuhkan kreativitas, pemecahan masalah dan
otonomi. Namun, sebagian besar anak prasekolah masih membutuhkan (dan
menginginkan!) keterlibatan orang tua selama waktu bermain yang tidak
terstruktur.
Tawarkan anak prasekolah berbagai
bahan seni (krayon, spidol, kapur tulis, cat jari), bahan bangunan (balok mini,
MagnaTiles, Lego) atau alat peraga permainan imajiner dan biarkan mereka
membuat kerajinan atau permainan mereka sendiri! Parent juga bisa
memasukkan bahan yang bukan mainan sama sekali. Bahan daur ulang dan daur
ulang, seperti gulungan handuk kertas, tabung kopi, dan kotak sereal dapat
digunakan berkali-kali. Gulungan handuk kertas bisa berupa teleskop,
tabung, mobil, pesawat, tongkat ajaib. Kotak sereal bisa menjadi gudang
untuk hewan, blok bangunan atau batu loncatan.
Amati anak dan perhatikan apa yang
membuat mereka tertarik. Satu anak mungkin tertarik untuk menumpuk dan
membangun, sementara yang lain ingin bermain rumah-rumahan. Gunakan
pengamatan ini untuk memandu dan memperluas permainan mereka. Jika mereka
tampak bingung, Parent dapat mencontohkan solusinya atau mengomentari
tindakan mereka, lalu mendorong mereka untuk mencoba lagi sendiri.
Ketika Parent menonton,
cobalah untuk tidak ikut campur ya ๐. Parent
mungkin mengomentari apa yang mereka lakukan dan memuji upaya mereka, tetapi
jangan lakukan pekerjaan itu untuk mereka. Misalnya, jika mereka menumpuk
kaleng, Parent bisa berkomentar, “Wah. Adek sedang membuat
menara yang tinggi ya?”
Apa yang harus
dikatakan saat mereka bekerja dan bermain
Selain memberikan kesempatan bagi
anak untuk membangun kemandirian, penting bagi Parent untuk memberi tahu
mereka bahwa Parent melihatnya — usaha mereka, kegigihan mereka,
keberanian mereka, pertumbuhan mereka. Dengan menawarkan umpan balik
verbal, Parent memberikan perhatian positif pada kualitas yang ingin Parent
kembangkan pada anak dan membuat perilaku ini lebih mungkin terjadi lagi.
Apa yang kami sebut keterampilan
“PRIDE” adalah strategi yang telah terbukti membantu meningkatkan perilaku
positif pada anak kecil:
- PRAISE: puji perilaku anak yang
pantas. Ini membantu meningkatkan perilaku spesifik yang saat ini Parent
kembangkan untuk mereka dan berkontribusi pada interaksi yang hangat
dengan anak. Misalnya, "Bunda bangga dengan kakak karena tidak
menyerah dengan teka-tekinya!"
- REFLECT: mencerminkan ucapan yang
sesuai. Ini membantu menunjukkan kepada anak bahwa Parent
mendengarkan dan memahami mereka. Misalnya, anak berkata, “Bunda,
kakak sedang membuat menara!” Parent kemudian bisa merespon
dengan berkata, "Wah, iya benar, menaranya bagus ya, Kak!"
- IMITATE (Imitasi) perilaku dan permainan
yang sesuai. Ini memberikan perhatian positif (hadiah paling kuat)
pada perilaku yang baik dan mendorong kerja sama. Misalnya, saat anak
membangun menara, Parent juga mulai menumpuk balok.
- DESCRIBE (Deskripsikan) perilaku anak yang
sesuai. Ini memperkuat permainan positif anak dan menarik perhatian
mereka ke sana. Parent mungkin berkata, "Bunda lihat,
adek sedang menggambar Pelangi, ya!" atau, "Kami sedang
membangun menara bersama."
- Jadilah ENTHUSIASTIC
(Antusias)! Hal ini membuat interaksi Parent terasa lebih
hangat dan membuat anak menjadi tertarik. Misalnya, Parent
dapat menggunakan suara yang lucu, melebih-lebihkan emosi saat berbicara,
dan sering tersenyum.
Sampai jumpa di artikel selanjutnya
๐
Wassalam!
Referensi:
Levine A., Philips L. (8 Februari
2022). How to Build Independence in Preschoolers. Childmind.org. https://childmind.org/article/how-to-build-independence-in-preschoolers/#full_article.
0 comments:
Posting Komentar